Home
 
 
 
 
Polisi Kehutanan Taman Nasional Gunung Leuser Amankan Pelaku Penjerat Harimau

Senin, 28/08/2017 - 14:37:44 WIB
SUMUT - Satuan Polisi Kehutanan Reaksi Cepat (SPORC) Brigade Macan Tutul Balai Pengamanan dan Penegakan Hukum (Gakkum) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Sumatera dan Polisi Hutan Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser (BB TNGL) meringkus seorang pemburu saat menjual bangkai harimau yang berhasil dijeratnya.

Hal ini disampaikan  Kepala Balai Gakkum KLHK Sumatera Halasan Tulus menyebutkan, pelakunya seorang buruh sawit di perusahaan perkebunan yang  berinisial I alias M (59), warga Desa Sei Serdang, Batang Serangan, Langkat, Sumut.

" Pelakunya menjerat dengan memasang tali, sekitar seminggu setelah mamasang tali pelaku melihat tali jeratnya telah berhasil menjerat harimau betina dan mati." terangnya Halasan Tulus senen 28/8/2017.

Setelah dapat buruannya, Pelaku M langsung menghubungi seseorang berinisial S untuk menjualnya. Dan  Ketika transaksi berlangsung, IM langsung ditangkap Satuan Polisi Kehutanan Reaksi Cepat di Desa Sei Serdang, Minggy (27/8/2017).

Tulus menjelaskan, harimau betina tersebut diperkirakan sekitar panjang 195 cm dan tingginya 85cm. Pelaku mamasang jerat dipinggir areal TNGL.

Pelaku yang berinisial IM ini sudah lama mengincar buruannya karena harimau tersebut selalu lewat lokasi itu dengan meninggalkan jejak.

Setelah 7 hari memasang jerat, seekor harimau terperangkap kemudian mati. Lalu IM menghubungi seseorang berinisial S untuk menjualnya.

Bangkai harimau beserta pelaku kemudian dibawa ke markas SPORC Brigade Macan Tutul Balai Gakkum KLHK Sumatera di Mariendal. IM mengaku bukan baru kali ini menjerat harimau. Sebelumnya laki-laki ini sudah dua kali berhasil menjerat satwa langka itu kemudian menjualnya. Dia baru tertangkap saat aksi ketiga.

Saat ini, IM telah dibawa ke kantor BBTNGL di Jalan Selamat, Medan. Dia masih menjalani pemeriksaan untuk mendalami dugaan adanya pelaku lain yang terlibat dalam perburuan dan jual beli satwa dilindungi itu.

Kepunahan harimau sumatera terus mengancam populasinya, diperkirakan hingga kini satwa yang dilndungi ini diperkirkan ada 300 ekor lagi. Dan kalau tidak jaga keberadaannya bakal menjadi punah dan tinggal sejarah.

Pelaku (IM) dijerat dengan Pasal 40 ayat (2) jo Pasal 21 ayat (2) huruf b UU
Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan
Ekosistemnya jo PP Nomor 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan
dan Satwa dengan terancam pidana penjara maksimal 5 tahun dan denda paling
banyak Rp100 juta. (ys)
Home