Home
 
 
 
 
Sudut Pandang Gerhana Bulan Yang Multi Tafsir

Kamis, 01/02/2018 - 13:08:25 WIB
PEKANBRU - Persepektif pandangan Islam gerhana matahari dan bulan berbebeda-beda. Pada abad ke-7 tentang gerhana dimana saat itu masih menekankan dimensi religius,spiritual,dan sosial (zaman primitif). Saat itu disebut sebagai misi kenabian Nabi Muhamad.

Beda halnya dengan negara Arab, umat islam memandang mereka menyebut bahwa gerhana bulan dan matahari itu merupakan pertanda buruk atau sesuatu yang menakutkan.

Pandangan mereka pada saat itu menganggap bahwa gerhana itu adalah sumber bencana dan malapetaka. Pada zaman sekarang pandangan tersebut bersifat primitif.

Masyarakat Arab pra-Islam memandang gerhana sebagai sesuatu yang menakutkan. Gerhana adalah pertanda sesuatu yang buruk akan terjadi, baik dari kematian maupun kelahiran seperti dikutip dari geotimes.co.id.

Pandangan primitif itu masih hidup saat Islam datang. Ketika putra Nabi Muhammad, Ibrahim, meninggal, yang bersamaan dengan terjadinya gerhana matahari, mereka mengatakan bahwa gerhana itu terjadi karena kepergian putra Nabi Muhammad. Dalam konteks itulah Nabi Muhammad bersabda:

"Matahari dan bulan adalah dua tanda kebesaran Allah. Keduanya mengalami gerhana bukan karena atau sebab bagi kematian atau kelahiran seseorang."

Selanjutnya Nabi Muhammad menganjurkan untuk melaksanakan salat, bertasbih, berzikir, bertahlil, bersedekah, dan memerdekakan budak.

Dengan pernyataan dan anjuran Nabi tersebut, Islam jelas menepis segi mitis dan primitif dari pandangan masyarakat Arab pra-Islam tentang gerhana.

Dari laporan berbagai hadis, Nabi Muhammad tampaknya beberapa kali melaksanakan salat gerhana. Karenanya, laporan tentang bagaimana Nabi melaksanakan salat gerhana matahari berbeda-beda.

Ada yang menyebutkan Nabi Muhammad salat gerhana dengan dua ruku’ dalam satu rakaat; ada yang menyebutkan dengan satu ruku’ dalam satu rakaat. Bahkan ada yang menyebutkan empat, enam, delapan, dan sepuluh ruku’ dalam satu rakaat. (dani)
Home