Ancaman abrasi di Desa Mentayan, Kecamatan Bantan, Kabupaten Bengkalis semakin mengganas. Kebun, sawah hingga kuburan sudah"> Ancaman abrasi di Desa Mentayan, Kecamatan Ba" />
Home
 
 
 
 
Abrasi di Desa Mentayan, 280 Hektar Ladang Padi Terancam Terendam Air Asin

Rabu, 29/08/2018 - 13:31:12 WIB
BENGKALIS - Ancaman abrasi di Desa Mentayan, Kecamatan Bantan, Kabupaten Bengkalis semakin mengganas. Kebun, sawah hingga kuburan sudah hilang dan berubah menjadi lautan.

Warga desa tak kuasa membendung ganasnya ombak gelombang Selat Melaka. Upaya membuat tanggul dan menanam mangrove hanya berbuah sia-sia. Setiap tahunnya sekitar 10 meter kebun dan ladang hilang dari daratan.

“Kami mengetuk hati pemerintah, tolonglah dan selamatkan desa kami, di sini tanah tumpah darah kami, tempat berladang menyambung hidup mencari makan. Kami setiap hari dilanda cemas dan was-was, desa kami akan hilang dan hanya jadi kenangan,” kata Kepala Desa Mentayan, Jalal saat menunjukkan lokasi abrasi sepanjang bagian utara desanya, Senin (27/8/2018).

Baru-baru ini, Jalal dan warganya sudah berupaya secara mandiri untuk melawan abrasi dengan dana desa dan iuran warga membuat tanggul menyelamatkan ladang padi. Hanya saja, itu hanya sementara dan tidak akan bertahan lama. Karena sudah sejak tahun 1997 puluhan hektare ladang tak terselamatkan.

“Kami hanya bertahan dan memberikan semangat warga kembali berladang, mereka sebetulnya sudah enggan karena air asin hampir masuk dan tanaman padi akan mati,” imbuh Jalal.

Sementara bantuan tanggul atau pemecah ombak yang diajukan setiap tahun kepada pemerintah hanya menjadi penantian yang tak menentu. 

“Permintaan kami warga desa Muntai (sebutan nama Desa Mentayan, red), jika pemerintah tak sanggup membantu , buatlah Proyek Tugu Prasasti di sini, jika desa kami hilang masih ada kenangan,” kata Jalal menggambarkan mirisnya perjuangan mereka membentengi desa.

Melihat kondisi abrasi yang sangat parah, Anggota DPRD Provinsi Riau, Bagus Santoso terus memompa semangat Kades dan warga desa untuk tidak patah semangat apalagi putus asa. Gotong royong yang dilakukan warga cerminan kegigihan rakyat yang mandiri.

Bagus Santoso juga menjelaskan, dulu saat menjabat Wakil Ketua DPRD Riau, dirinya telah membangun tanggul abrasi di desa Muntai dan akhirnya jebol ditelan abrasi. Begitu juga upaya penanaman mangrove juga dilakukan, hasilnya meski ada yang berhasil tumbuh tetapi tidak bisa menahan abrasi.

“Satu-satunya model tanggul yang berhasil dengan menggunakan bahan bongkahan batu pecah yang didatangkan dari Jawa seperti di sepanjang tepi pantai Selat Baru, hanya saja butuh anggaran yang sangat besar, kita akan berjuang bersama agar mendapat dana APBN,” kata Bagus Santoso memberikan secercah harapan kepada warga.

Bagus Santoso menambahkan, dirinya akan berkordinasi dengan Pemerintah Kabupaten Bengkalis dan Pemerintah Provinsi Riau agar persoalan abrasi menjadi program dan kegiatan prioritas. 

“Saya akan sampaikan juga kepada anggota DPR RI utusan Riau, kalau semua peduli, Insya Allah akan didengar oleh kementerian terkait bahkan Presiden,” imbuh Bagus. (Sbs/Rdn)
Home