Kapolda Riau yang baru beberapa minggu  resmi memimpin kepolisian daerah  Riau menitikan air mata.

"> Kapolda Riau yang baru beberapa minggu  resmi memimpin kepolisian daerah  Riau menitikan air mata.
Home
 
 
 
 
Kapolda Riau Menitikan Air Mata

Kamis, 06/09/2018 - 14:01:47 WIB
PEKANBARU - Kapolda Riau yang baru beberapa minggu  resmi memimpin kepolisian daerah  Riau menitikan air mata saat menyampaikan sambutan dihadapan Forum Komunikasi pimpinan daerah Provinsi Riau dan tokoh-tokoh masyarakat Riau.Dalam acara Silaturahmi Kapolda Riau.  Kamis 06/08/2018

Dalam sambutannya Kapolda Riau Brigjen Pol Widodo Eko Prihastopo, menyatakan bahwa Negara kita sudah ditakdirkan heterogen oleh Tuhan yang Maha Esa, bermacam suku, berbeda -beda agama, beda Ras dan beda bahasa, beda budaya." Kita lahir di bumi yang penduduknya beraneka ragam, tidak seperti bangsa lain ada yang homogen, satu suku, keanekaragaman ini harus kita syukuri, "paparnya.

Mantan Wakapolda Jatim ini menegaskan bahwa mempertentangkan SARA sangat berbahaya . Ia menegaskan bahwa beberapa bangsa hancur hanya akibat mempertentangkan maslah Suku, Agama, Ras dan Antar golongan.

Perwira tinggi Polri yang segera memundak bintang 2 ini sempat menitikan airmata mengingat betapa susahnya ssuatu bangsa yang hancur akibat SARA, ia menuturkan pengalaman ketika bertugas di Bosnia Herzegovina tahun 1996.Penduduk negara itu perang saudara dan yang menderita adalah rakyat yang tidak tahu apa-apa,"jelasnya sambil menyeka airmata.

Kapolda yang suka humor ini juga menghimbau masyarakat Riau tetap hidup damai dan harmonis, walau dalam waktu dekat ini akan ada pelaksanaan pemilu legislatif dan pemilu presiden. " Mari tetap menjaga kerukunan dan kedamaian yang selama ini telah terjaga,"ungkapnya.

Ia menegaskan bahwa Polri punya tugas menjaga ketentraman dan keamanan masyarakat, dan polri selalu mengedepankan pencegahan daripada reprensif.

Ia menegaskan bahwa dalam menyampaikan pendapat tetap ada norma dan aturan yang harus dipedomani. " Kebebasan mengeluarkan pendapat dilindungi undang-undang, namun tetap ada batasan-batasan yang harus di pedomani, misalnya tidak melanggar hak azasi manusia, tidak mengganggu ketertiban umum," tegasnya. ***



Home