Home
 
 
 
 
Sambil Menangis, Kim Jong-Un Bersyukur Tak Ada Warga Korut Kena Corona

Selasa, 13/10/2020 - 20:39:07 WIB
ZONARIAU.COM - Ada momen yang tidak biasa ketika menyaksikan pidato pemimpin tertinggi Korea Utara, Kim Jong-Un pada akhir pekan lalu. Saat peringatan HUT ke-75 Partai Buruh pada Sabtu, 10 Oktober 2020 lalu, Kim Jong-Un terlihat meneteskan air mata.

Laman Vice, Senin, 12 Oktober 2020 melaporkan dalam pidatonya, Kim berulang kali menyampaikan permintaan maaf dan berterima kasih kepada publik dan angkatan bersenjata Korut. Kata "terima kasih" dan "bersyukur" terdengar diucapkan lebih dari 10 kali meluncur dari mulut Kim. Suaranya sempat terdengar bergetar karena emosional, lalu Kim sempat melepas kacamata sambil mengusap sapu tangan ke wajah. Air mata sempat terlihat menetes di wajah Kim.

"Saya memberikan penghormatan tertinggi kepada warga atas kesetiaan dan pengabdian terhadap negara ini. Terima kasih saya ucapkan juga ke para personel militer," kata Kim.

"Saya berterima kasih karena mereka tetap sehat dan tidak ada satu pun yang terpapar virus jahat itu," sambungnya.

Kim mengaku terharu dengan pencapaian Korea Utara berhasil mencegah masuk virus corona. "Saya tidak bisa menemukan kalimat lain yang lebih pas kecuali terima kasih," ujarnya.

Tak heran bila virus corona sulit masuk ke Korut. Sebab, sejak awal Kim telah memerintahkan agar menutup wilayah perbatasan dan melarang warga asing masuk ke sana. Selain itu, Kim juga memerintahkan agar warga asing yang mencoba masuk tanpa izin ke Korut langsung ditembak mati.

Apakah ini merupakan gaya kepemimpinan yang ditunjukkan oleh Kim Jong-Un dengan meminta maaf kepada warganya?

1. Kim Jong-Un memiliki gaya kepemimpinan menunjukkan emosi di hadapan publik

Menurut Direktur Institut Nasional untuk Unifikasi Korea, Koh Yu-hwan, sudah menjadi gaya Kim Jong-Un untuk menunjukkan komentar dengan nada emosional sambil meneteskan air mata. Menurut Koh, Kim Jong-Un memang berbeda dibandingkan mendiang ayahnya, Kim Jong-Il yang jarang menampilkan emosinya di hadapan publik. Analisa semacam ini menjadi lumrah dilakukan lantaran Korut merupakan negara yang tertutup.

"Inilah yang menjadi perbedaan antara Kim dengan ayahnya. Di saat mendiang ayahnya jarang tampil di hadapan publik dan hanya menyampaikan beberapa patah kata, Kim menunjukkan emosi dan bahkan meneteskan air mata," ujar Koh.

Sedangkan, menurut pengajar di Universitas Korea Utara, Yang Moo-jin, gaya kepemimpinan Kim lainnya yang khas dan tidak dimiliki oleh sang ayah yakni ia akan mengakui kesalahan dan bersedia meminta maaf. Hal itu turut ditunjukkan oleh Kim dalam pidatonya. Pada akhir pekan lalu, ia mengatakan meski banyak warga Korut yang menaruh rasa kepercayaan yang begitu tinggi kepada dirinya, namun ia kerap gagal memenuhi ekspektasi itu.

"Saya benar-benar meminta maaf," ujar Kim.

2. Kim Jong-Un juga pernah meminta maaf kepada Presiden Korea Selatan karena telah menembak mati pejabatnya

Sambil Menangis, Kim Jong-Un Bersyukur Tak Ada Warga Korut Kena CoronaPimpinan tertinggi Korea Utara Kim Jong-Un (ANTARA FOTO/Yonhap via REUTERS)

Itu merupakan pernyataan maaf kedua yang disampaikan oleh Kim Jong-Un dalam beberapa pekan terakhir. Ia juga sempat meminta maaf secara tertulis kepada Presiden Moon Jae-In lantaran personel militer Korut menembak mati pejabat tinggi Korsel.

Dalam surat resmi yang dikirim ke Presiden Moon, Kim Jong-un menyebut peristiwa penembakan pejabat Korsel sebagai insiden memalukan. Ia juga meminta maaf karena telah mengecewakan Presiden Moon dan rakyat Korsel.

Menurut Direktur Keamanan Nasional Korsel, Suh Hoon, pejabat mereka ditembak karena saat memasuki wilayah perairan Korut, ia tak mau mengungkap identitasnya. Selain itu, pejabat Korsel tersebut dituduh berniat kabur.

"Saat ini pasukan kami masih belum bisa menemukan orang asing yang menerobos usai ditembak. Alat untuk menembak kemudian dibakar di bawah aturan UU darurat untuk mencegah pandemik," kata Suh ketika memberikan keterangan pers.

Kim dalam suratnya juga memahami lebih dari siapa pun beratnya beban pemimpin yang menghadapi dua tragedi sekaligus yaitu pandemik dan kerusakan akibat badai topan.

Kim Jong-un jarang menyampaikan permintaan maaf secara resmi kepada Pemerintah Korsel. Dalam insiden tenggelamnya kapal perang Korsel pada 2010 lalu, Korut ogah meminta maaf dan bertanggung jawab. Padahal, akibat serangan mereka menyebabkan tewasnya 46 personel angkatan laut Korsel.

Di tahun yang sama, militer Korut juga pernah menembak ke arah pulau yang masuk teritorial Korsel. Akibatnya dua personel militer dan dua pekerja konstruksi di pulau tersebut tewas. Korut juga enggan meminta maaf atas insiden itu.

3. Kim Jong-Un turut memamerkan senjata baru yakni rudal balistik antar benua di HUT ke-75 Partai Buruh

Hal lain yang ditunjukkan oleh Kim Jong-Un saat HUT ke-75 Partai Buruh yakni ia memamerkan senjata baru Korea Utara yakni rudal balistik antar benua yang diklaim sebagai rudal balistik terbesar yang pernah ada.

"Kami akan terus membangun kemampuan persenjataan dan pertahanan Korea Utara untuk mencegah perang," ujar Kim yang dikutip oleh kantor berita Reuters pada akhir pekan lalu.

Selain rudal balistik, Kim juga menunjukkan ke publik rudal Hwangsong-15. Ini merupakan rudal dengan jarak jangkau paling jauh yang pernah diuji oleh negara komunis itu.

Pamer senjata rudal baru ini diprediksi bisa memprovokasi negara lain. Sejumlah pakar mengingatkan rudal yang dimiliki oleh Korut tidak bisa dianggap enteng sebab rudal itu bisa menyerang beberapa target sekaligus. (AH**)

Sumber : idntimes.com


Home