Penangkapan dan tuduhan tersangka delapan aktivis Nias yang ditahan dirumah tahanan polres nias sumatera utara, menuai kritikan pedas dari masyarakat kepulauan nias. Pasalnya, penahanan dan tuduhan tersangka tersebut oleh p"> Penangkapan dan tuduhan tersangka delapan aktivis Nias yang ditahan dirumah tahanan polres nias sumatera utara, menuai kritikan pedas dar" />
Home
 
 
 
 
Delapan Aktivis Nias Jadi Tahanan di Polres Nias, Menjadi Perbincangan Hangat Dunia Maya

Rabu, 13/04/2016 - 11:47:31 WIB
ZONA RIAU. COM - Gunungsitoli, Nias - Penangkapan dan tuduhan tersangka delapan aktivis Nias yang ditahan dirumah tahanan polres nias sumatera utara, menuai kritikan pedas dari masyarakat kepulauan nias. Pasalnya, penahanan dan tuduhan tersangka tersebut oleh pihak polres nias di nilai ngawur dan salah sasaran.

Seperti diketahui bersama, beberapa hari terakhir ini kalangan masyarakat kepulauan nias baik ormas, cipayung dan kalangan mahasiswa melakukan aksi unjuk rasa menuntut pelayanan PT. PLN Area Nias yang dinilai sangat mengecewakan, hal ini juga senada dengan kaum intelektual nias yang berdomisili di Jabotabek yang mengatasnamakan Pemuda Peduli Nias (PPN) yang melakukan Aksi damai di kantor Kementrian ESDM di jakarta beberapa waktu lalu.

Bukan hanya itu, dalam beberapa aksi damai tersebut, mereka juga mengecam sikap arogansi oknum jajaran personil polres nias yang melakukan penangkapan terhadap delapan aktivis nias dan meminta pihak polres nias membebaskan para aktivis tersebut karna tindakan yang mereka lakukan adalah murni memperjuangkan kepentingan masyarakat kepulauan nias secara menyeluruh, usut punya usut ternyata para aktivis itu berprofesi sebagai jurnalistik.

Ternyata bukan hanya di dunia nyata saja ada reaksi protes terhadap tindakan jajaran polres nias tersebut, di dunia maya pun polres nias mendapat sorotan dan kritikan pedas.

Salah satunya yosafati waruwu salah seorang politikus dari partai Nasdem yang juga merupakan putra asal kepulauan Nias, ikut menyayangkan sikap oknum personil polres nias yang diduga melakukan tindakan anarkis terhadap delapan aktivis nias beberapa waktu lalu.
Kekecewaan politikus itu pun dituliskannya di jejaring sosial akun facebook miliknya.

Sudah jatuh tertimpa tangga. Sudah gelap, kena tangkap dan dipidana pula. Sejak tanggal 01/04/2016 hingga sekarang Kep. Nias masih gerhana listrik. Masih adakah yang menghujat para aktivis dan jurnalis di Kep. Nias karena berjuang untuk kepentingan kaumnya dan masyarakatnya? Mana para pembela PLN Area Nias yang berkoar-koar seolah membenarkan pemadaman total hingga sekarang, dan perlakuan kekerasan terhadap aktivis dan jurnalis oleh Polres Nias seolah-olah wajar dan dibenarkan? Terbiasa sekali kita mengagumi PENJILAT (samela). Buah tangan mereka menyengsarakan masyarakat Kep. Nias berpuluh-puluh tahun. Tulis yosafati di akun facebook miliknya.

Postingan itu pun menuai dukungan para netizen yang ikut serta memberi komentar, namun ada juga sanggahan dari salah seorang netizen yang belakangan ini diketahui bertugas di malpores nias.

"belum ada solusinya juga ya? wakil rakyat dan pejabat daerah yang dipilih waktu itu udah pada mati ya? kok diam saja? atau mereka menikmati keadaan Nias saat ini?" tulis Christine Calvin Mendrofa


Tindakan Brutal Oknum Polres Nias sangat mengecewakan dan ini seperti tindakan preman jalanan.  Tulis Efita Bawamenewi

Pemuda adalah aset bangsa. Pemuda adalah agen perubahan menuju yg lbh baik. Sepakat pak YosafatiWaruwu. Tulis Faigiziduhu Ndruru, ikut menanggapi.

"Kep. Nias kembali d jajah Oleh petinggi2 yang ada diKep. Nias termasuk Petinggi Polres Nias,.....Ini adalah sejarah di Kep. Nias tercinta yg Di pipimpin oleh anak daerah sendiri" tulis pemilik akun Vengga Hulu.

Merasa tergelitik membaca komentar para netizen tersebut, masati ziliwu pun ikut memberi sanggahan.

"Soal penahanan para pengunjukrasa yg mungkin anarkhis dan tidak ada ijin dari Kepolisian setempat," kita biarkan hukum berproses. Apabila ada pelanggaran yg dilakukan Polres Nias, silakan kita laporkan kepada yg berkompeten. Sanggahan Masati Ziliwu yang ternyata bertugas di mapolres nias.

Masati pun berdalil bahwa UU No. 9 Tahun 1998 yang mengatur tentang tata cara menyampaikan pendapat di muka umum bahwa mesti dilakukan pemberitahukan kepada Kepolisian setempat. "Jadi, jangan kita ajari masyarakat Nias melanggar hukum, silakan suarakan hak-hak tapi dibawah peraturan perundang-undangan yg ada karena kita berada di negara hukum". Lagi-lagi Masati memberi pembelaan.

Sanggahan Oknum polisi tersebut mendapat tanggapan para netizen yang lain.

Bagaimana juga tentang Pekapolri No. 9 Tahun 2008 pasal 13 dan pasal 23 ayat 1. gimana juga dengan Pekapolri Mo.16 Tahun 2006 tentang pengendalian massa. Tanya pemilik aku Tema Tel Tema.

Pak Masati Ziliwu, wah...wah...tidak benar donk pak mereka unjuk rasa seenaknya. Yang enaknya dimana?? Mereka menyuarakan kepentingan masyarakat ono niha yang mengalami pemadaman listrik yang dilakukan secara sepihak oleh PLN. Kita harus melihat kasus penangkapan para aktivis ini secara arif dengan segala tingkat urgensi dan tujuannya. Kita sedang berbicara kepentingan hajat orang banyak, murni dari suara rakyat dan tidak ada embel-embel kepentingan lain yang sifatnya politis. Risma Zebua menanggapi.

Netizen lain pun ikut nimbrung memberi tanggapan.

"Selamat sore semua Sepertinya topik ini menarik, dua pendapat dari sudut pandang yang berbeda muncul, dan itu merupakan hal yang lumrah dan bagian dari demokrasi."

Saya tertarik mencermati argumen ‪#‎BapakMasatiZiliwu‬ yang berpatokan pada UU dalam melaksanakan tugas, itu sah-sah saja ada dalil begitu karna kita tau semua background pak ziliwu dari mana hehehe.

Nahhh... Setahu saya ya,, kewenangan pihak kepolisian dalam menghadapi sekelompok orang yang katakanlah berunjukrasa, polisi hanya memilikikewenangan MEMBUBARKAN bukan malah melakukan TINDAKAN KEKERASAN DAN PEMUKULAN. Yang ke dua adalah masalah izin aksi. Yahhh betul dalil itu pak, tapi tidak dibenarkan pak hanya karna alasan izin itu menjadi sebuah persoalan. Karna, di dalam dunia pergerakan atau katakanlah Unjuk rasa PIHAK PELAKU AKSI DAMAI tidak membutuhkan ijin dari pihak mana pun termasuk pihak POLRI namun yang dibenarkan adalah PEMBERITAHUAN sehingga nantinya Polisi mengeluarkan STTP (Surat tanda terima pemberitahuan) bukan ijin pak.

Nah, menyikapi aksi penyalaan lilin pada tgl 3/4/16 di kantor PLN NIAS perlu digaris bawahi bahwa aksi itu tidak bersifat demonstrasi dan tidak terindikasi ANARKIS. Aksi itu merupakan wujud keresahaan masyarakat nias akibat padamnya listrik dikepulauan nias dan perlu di ingat bahwa aksi tersebut BERLANGSUNG SPONTAN (DADAKAN) maka STTP tidak wajibkan ada. Begitu pak menurut saya. Semoga bapak‪#‎MasatiZiliwu ‬meluangkan waktu untuk menanggapinya.

Saohagolo pak 86. 8.13, tulis Alvyman Hulu ikut menanggapi.

Tak tinggal diam, pembelaan demi satuannya pun tetap diperjuangkan.

"Karena Anda tahu aturan tapi mendukung untuk melanggarnya, maka tanyakan langsung ke Kapolres Nias, beliau orang Nias koq.. Hanya menghabiskan energi Anda aja kalau koar-koar di medsos ini lho Pak Alvyman Hulu. Colek:Oshy Du Hugo Daely II, Berita Polres Nias Baru II,Jonny Hunter. Kembali Masati Ziliwu menanggapi."

Merasa belum puas dengan jawaban tersebut, dan merasa gerah di tuduh mendukung yang melakukan pelanggaran, Alvyman Hulu kembali menguraikan pendapatnya bahwa aksi yang berlangsung pada 3 april tersebut tidak bertujuan meresahkan masyarakat malah sebaliknya.

Wahhh statmen yg begitu baik dari pak ziliwu kata2 yang indah halus dan bermakna. Terimakasih pencerahaannya pak, kami mendukung yang baik tapi kami mengecam perilaku ketidakadilan pak. Dalam hal ini kita hanya diskusi pak bukan ambisi menunjukkan kehebatan dan pengetahuan.

Nah, tadi bapak berdalil bahwa terindikasi kami mendukung yang salah. Saya bantah hal itu pak,, kami selalu mendukung kinerja aparat penegak hukum dalam menjalankan fungsinya. Terlepas dari itu, mari kita lihat semboyan POLRI yaitu: Melayani, melindungi dan mengayomi. Jika kita cermati pada penangkapan 8 aktivis itu 3 jurus sakti Polri tersebut sudah terlaksana? Hehehehe data yang ada dilapangan bertolak belakang pak. Dan mari kita lihat fakta yang ada, bagaimana antusias masyarakat nias ikut serta dalam aksi penyalaan 1000 lilin tersebut pak, ratusan manusia ikut pak, bahkan ada beberapa pendeta ikut serta.

Selain itu,,yakinkan kami bahwa ada tindakan anarkis yang peserta aksi itu lakukan, pengrusakan fasilitas negara mana yg mereka rusak? Mohon maaf pak kita bukan menyudutkan jajaran polres nias melainkan kita bagian dari kontrol sosial. Silahkan ditanggapi pak dengan santai dan kepala dingin.
Tanya alvyn dengan penuh penasaran. Tapi sayangnya, masati ziliwu menghilang dan tidak menanggapi.

Dari kejadian ini tentunya Masyarakat nias berharap, masalah ini segera selesai dan keadilan bagi delapan aktivis tersebut akan terungkap sehingga tidak membuat polemik mendalam dikalangan masyarakat nias itu sendiri. (Iman/Efi)
Home